Era digitalisasi: modus kreatif penipuan sekali klik


Era digitalisasi: modus kreatif penipuan sekali klik.Di era saat ini teknologi semakin pesat, hampir semua orang memiliki smartphone dan memiliki akses terhadap media sosial. Berbeda dengan dulu, ketika ingin berkomunikasi jarak jauh, Anda harus menggunakan postingan sebagai perantara untuk menyampaikan pesan yang ingin Anda sampaikan, dan tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menerima pesan tersebut. Keterbatasan teknologi pada masa itu jauh berbeda dengan sekarang.


Salah satu kemajuan teknologi adalah internet atau dunia maya. Internet merupakan wadah informasi dan komunikasi online, meliputi browsing, mengambil data dan berita, saling berkirim pesan, serta dapat digunakan untuk melakukan transaksi online. Hal ini memberikan kemudahan yang diberikan oleh teknologi kepada masyarakat, dan hanya melalui media sosial mereka dapat berinteraksi satu sama lain tanpa batasan, meskipun berada dalam lingkungan yang berbeda.

Pemanfaatan teknologi seperti internet dapat memberikan dampak positif dan juga dampak negatif yang dapat merugikan masyarakat. Dampak negatif yang terjadi mulai dari cyberbullying, pemalsuan data, meningkatnya kejahatan di dunia maya atau cybercrime. Cybercrime merupakan kejahatan yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam menggunakan teknologi informasi, baik internet maupun mobile, termasuk penipuan online yang banyak terjadi di Indonesia.


Berdasarkan data Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kominfo), terdapat 1.730 kasus konten penipuan online sejak Agustus 2018 hingga 16 Februari 2023. Sedangkan menurut survei CfDS UGM terhadap 1.700 responden di 34 provinsi pada Agustus lalu, jumlahnya mencapai 66,6%. Mereka menjadi korban penipuan online, 36,9% model penipuan menyamar sebagai hadiah, dan 33,8% model penipuan online berbentuk link atau transmisi tautan (Septiani, 2023).


Model penipuan terungkap dengan mengirimkan link melalui Whatsapp, seperti terlihat dalam video dari akun Tiktok dengan nama pengguna MoneyDuck Indonesia. Penipuannya adalah, atas nama petugas polisi, orang tersebut mendapat pesan berupa tilang online karena melanggar peraturan lalu lintas. Penipu kemudian mengirimkan tiket secara online dalam format dokumen portabel (pdf). Ketika korban mengklik tombol download PDF, data atau identitasnya bisa dicuri. Kejadian serupa juga terjadi pada akun @nurfajrikusumah yang meninggalkan komentar di video tersebut dan menyebut dirinya juga salah satu korban penipuan model tersebut hingga total kehilangan uang sebesar 9 juta rupiah.


Melihat tingginya kasus penipuan online di Indonesia, Bripka Teddy Purbo Siswanto (Penyidik ​​Satuan Reserse Kriminal Polres Sleman) mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kejahatan penipuan online dengan menggunakan media sosial sebagai perantaranya (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta , 2019).


1. Kultur Budaya

Peralihan budaya lama ke budaya baru atau modern yang dilakukan masyarakat berdampak pada penyalahgunaan ilmu pengetahuan tanpa ada rasa tanggung jawab bagi yang melakukannya. Blankenberg menjelaskan bahwa budaya mencakup budaya hukum. Budaya hukum sendiri menunjukkan cara pandang suatu masyarakat, menunjukkan sikapnya terhadap permasalahan hukum yang muncul dalam masyarakat. Kejahatan berbasis internet dan kejahatan dunia maya adalah contoh kejahatan yang berkembang sebagai respons terhadap perubahan budaya modern.


2. Faktor pendorong

Semakin tinggi angka kemiskinan, pengangguran, dan pertumbuhan penduduk yang tidak merata dalam hal kualitas hidup, sehingga mereka terdorong untuk melakukan penipuan untuk bertahan hidup. Budaya konsumerisme dan materialisme merupakan keinginan individu untuk menghasilkan uang secara instan, sehingga pola pikir masyarakat Indonesia dapat menyebabkan peningkatan penipuan online dan tradisional.


3. Faktor ekonomi

Faktor ekonomi merupakan faktor terpenting terjadinya suatu kejahatan yang dilakukan oleh seseorang. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan hidup dan mahalnya biaya hidup, seringkali masyarakat berani melakukan hal-hal terlarang dan merugikan orang lain. Salah satu hal yang juga bisa dilakukan untuk melakukan penipuan adalah dengan menggunakan media sosial.

Banyak sekali faktor yang menyebabkan terjadinya penipuan di media sosial, sehingga sebaiknya selalu berhati-hati dan waspada terhadap kejahatan yang sering terjadi di era digital. Lantas bagaimana kita bisa menjadi pengguna media sosial yang cerdas agar terhindar dari hal tersebut dan menangani kejahatan yang terjadi di media sosial?

Tinggalkan Balasan